Wednesday, October 22, 2008

Mengatasi Anak Sulit Makan

Artikel ini diambil dari milis Nakita

MENGATASI ANAK SULIT MAKAN

Persoalan sulit makan sering dialami anak-anak, dari bayi sampai usia
sekolah. Begitu beragam masalah yang muncul. Lalu, bagaimana solusinya?

Barangkali Anda merupakan salah satu orang tua yang mengeluh anaknya sulit
makan. Anda sudah mencoba berbagai cara agar masalah yang dihadapi bisa
teratasi. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang tidak. Memang, mengubah
perilaku sulit makan tidaklah mudah. Perlu solusi tepat sesuai dengan akar
masalah dan penyebab sulit makan yang dialami sang buah hati.

RAGAM MASALAH

Bayi mulai usia 6 bulan dianjurkan untuk mendapatkan makanan tambahan,
misalnya biskuit, bubur susu, ataupun jus buah. Masalahnya, si kecil mungkin
menyemburkan atau melepeh makanannya. Di usia batita, kendala yang terjadi
di antaranya mengemut atau tak mau menelan makanan. Sementara anak
prasekolah yang sudah lebih besar mulai pilih-pilih makanan (picky eater),
punya kebiasaan makan sambil jalan-jalan, main games, atau sambil nonton
teve. Sedangkan anak usia 6-9 tahun cenderung memilih jajanan berkalori
tinggi tetapi kurang atau tidak bergizi sama sekali. Di tahapan selanjutnya,
sekitar 9-12 tahun, perilaku sulit makan kian kompleks. Di satu sisi nafsu
makannya mulai meningkat, tapi di sisi lain mereka takut makan akan membuat
tubuh jadi bulat, jerawatan dan sebagainya.

Penyebab perilaku sulit makan pada anak sebetulnya bisa ditelusuri.
Misalnya, bayi yang sering menolak makan barangkali disebabkan pemberian
makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang terlalu cepat atau malah terlambat.
Faktor penyebab lainnya adalah perilaku makan orang tua ternyata salah.
Makan sambil nonton teve atau membaca koran adalah beberapa di antaranya
yang kemudian ditiru anak. Selain itu, orang tua juga mungkin kurang
terampil menyajikan menu makanan yang variatif. Demi kepraktisan, makanan
yang tersaji di meja makan cenderung itu-itu saja.

Jika Anda tak mau problem sulit makan ini berlarut-larut dan berdampak
buruk, maka carikan solusinya. Kekurangan gizi merupakan risiko yang paling
jelas. Indikator mengenai status gizinya bisa terbaca dari berat badan dan
tinggi badan yang berada di bawah standar. Oleh karena itu, cari tahu
penyebab anak sulit makan dan lakukan upaya mengatasinya yang tepat.

Hilman Hilmansyah. Foto: Iman/nakita

6-12 BULAN

"DUH...BAYIKU KOK ENGGAK MAU MAKAN?"

Masalah muncul ketika bayi memasuki masa transisi dari makanan cair ke
makanan semipadat.

Di usia 6 bulan, kebutuhan asupan makan si kecil mengalami perubahan. ASI
saja tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Itulah
mengapa di usia ini si kecil membutuhkan makanan pendamping ASI (MP-ASI).

Namun tak selamanya pemberian MP-ASI berjalan mulus. Ada begitu banyak
bentuk penolakan makan yang dilakukan bayi. Di antaranya melepehkan atau
menyembur-nyemburka n makanan yang sudah disuapkan ke mulutnya. Bahkan, tidak
sedikit yang terang-terangan menolak dengan memalingkan mukanya atau menutup
mulutnya rapat-rapat. Jangan terburu-buru menyalahkan anak, apalagi
mencapnya dengan sebutan "bayi rewel", "susah diurus", "bikin repot" dan
sebagainya. Siapa tahu penolakan-penolakan tersebut justru muncul karena
organ-organ pencernaan di mulutnya belum siap menerima makanan yang
diberikan. Entah karena tekstur makanannya terlalu kasar, terlalu kental,
atau porsinya tidak sesuai dengan kemampuan menelan bayi.

Ada juga bayi yang awalnya tak pernah menolak makan, tapi saat berusia 8
bulan atau lebih baru rewel soal makan. Kemungkinan, bentuk penolakan
tersebut merupakan "aksi protes" terhadap citarasa makanan yang diberikan.
Ingat, anak usia ini sudah mengenal rasa apa yang disukainya, apakah manis
atau asin/gurih.

Bisa juga, penolakan tersebut merupakan wujud dari ketidaksukaannya terhadap
sosok si pemberi makan. Meski masih bayi, anak sudah bisa mengenali mana
sosok yang bersahabat dan mana pula yang tak sabaran hingga cenderung main
paksa. Perlakuan yang buruk tentu akan terekam dalam benak anak yang
kemudian mendorongnya memasang "benteng pertahanan" lewat bentuk penolakan.

KIAT MEMBERI MAKAN

Untuk mencegah dan menangani masalah sulit makan pada bayi, setidaknya orang
tua harus mengupayakan hal-hal berikut:

- Mengakrabkan diri agar disukai di kecil.

- Membangun suasana makan yang menyenangkan, tidak dengan diam membisu atau
bersikap formal. Selingi dengan canda ria sambil sesekali mengajaknya
ngobrol dan bermain.

- Sajikan semenarik mungkin, baik makanan itu sendiri maupun perangkat
sajinya.

- Menguasai ilmu mengenai teknik maupun tahapan pemberian makan pada bayi.

* USIA 6-7 BULAN

MP-ASI dikenalkan secara bertahap sebab mekanisme menelan dan kemampuan
mencerna si kecil masih lemah. Jadi, mulailah dengan makanan yang lunak dan
bersifat cair lebih dulu, berupa bubur susu yang encer, kemudian semakin
kental.

Selain itu, selalu berikan lebih dulu dalam jumlah sedikit. Seiring dengan
berjalannya waktu, konsentrasi buburnya bisa dipadatkan dan porsinya dapat
ditingkatkan. Mengapa komposisi kekentalan harus sesuai? Karena kalau
terlalu encer tentu kandungan gizinya tidak maksimal. Sebaliknya, jika
kelewat kental bukan tidak mungkin malah mendatangkan masalah baru, yakni
susah buang air besar.

Yang harus dijadikan patokan, tetap berikan ASI kapan pun si kecil mau.
Namun usahakan jangan sampai membuatnya terlalu kenyang karena dia toh harus
mengonsumsi MP-ASI-nya. Jangan lupa, biasakan pula ia mengonsumsi
buah-buahan yang manis rasanya seperti pepaya, pisang, atau jeruk.
Buah-buahan ini bisa disajikan dalam bentuk jus atau dicampur dengan makanan
lainnya. Ada baiknya pula jika diberikan biskuit khusus bayi. Biskuit
semacam ini, selain melatih kemampuannya mengunyah, juga amat disarankan
untuk merangsang pertumbuhan giginya.

* USIA 8-9 BULAN

Di usia ini, ASI tetap diberikan kapan pun bayi mau. Akan tetapi, mulailah
perkenalkan makanan dengan tekstur yang lebih padat, seperti bubur susu
(berbahan buah atau tepung). Mengenai porsinya, tambahkan sesuai kebutuhan
dan kondisi bayi. Contohnya, bayi dengan BB dan panjang tubuh lebih tentu
butuh asupan lebih banyak ketimbang bayi dengan panjang tubuh dan BB yang
lebih kecil. Bubur saring bisa juga dijadikan alternatif pilihan bila
kebetulan tidak tersedia buah yang segar. Bahan-bahannya bisa berupa beras,
makaroni, kentang, kacang hijau, atau roti. Namun perhatikan, sebelum
diberikan harus disaring lebih dulu.

* USIA 9-12 BULAN

Saat berusia 9 bulan dan seterusnya, bayi sudah mampu mencerna makanan
semipadat. Yang dimaksud adalah nasi tim beserta lauk pauknya. Jangan lupa,
biasanya bagian atas nasi tim lebih keras dibandingkan bagian bawahnya. Nah,
agar bayi tidak menolak makanan baru ini, aduklah dulu agar kepadatannya
merata.

Bubur saring, buah kerok atau jus, dan ASI atau penggantinya berupa susu
formula tetap diberikan. Sebagai selingan, bayi boleh diberi bubur susu
berbahan dasar jeruk atau pisang untuk memperkaya pengenalan rasanya. Tak
ada salahnya pula bila sesekali mengenalkan bumbu alami dan teknik
pengolahan makanan sederhan. Semisal tumis ikan dengan bawang putih dan
mentega atau sup dimasak dengan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang.
Untuk anak usia ini, garam sudah boleh diberikan sedikit.

Di usia setahun, diharapkan si kecil sudah bisa makan sesuai menu keluarga.
Namun jangan lupa memperhatikan kemampuan mengunyah dan menelannya. Potong
kecil-kecil lauk pauknya agar mudah masuk ke mulut mungilnya, mudah pula
untuk dikunyah, dan ditelan serta dicerna organ tubuhnya.

Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/nakita

Konsultan Ahli:

Alzena Masykuori, M.Psi
psikolog dari Cikal Sehat-Sehat, Jakarta Selatan

TRIK MENGHADAPI PENOLAKAN

Walaupun hal-hal yang dianjurkan tadi sudah dicoba, mungkin sekali si kecil
tetap melancarkan penolakan. Kalau ini yang terjadi, berarti eksplorasi yang
dilakukan orang tua belum maksimal. Lebih baik, terus lakukan pencarian
untuk mengetahui seperti apa makanan yang disukainya, bagaimana cara memberi
makan yang disukai dan tidak disukai dan sebagainya. Sukses tidaknya
penelusuran ini tidak terlepas dari kesabaran, ketenangan, dan keterampilan
orang tua menghadapi ulah si kecil saat melakukan penolakan.

* Tolak MP-ASI, tapi mau ASI

Jika menghadapi kondisi seperti ini, pemberian makanan secara bertahap harus
dirancang. Memang sih waktu makannya jadi jauh lebih lama. Contohnya,
berikan 1 sendok MP-ASI setiap jadwal makan tiba dengan konsentrasi
makanannya lebih cair dibanding ukuran standar yang dianjurkan di kemasan.
Setiap hari porsi ini harus ditingkatkan, dari 1 sendok menjadi 2 sendok
hingga akhirnya mencapai 1 mangkuk. Perlu diingat, jadwal makannya pun harus
diberikan secara konstan dan berkesinambungan. Mengapa ini penting? Karena
si kecil mau tidak mau harus diajarkan keteraturan untuk membentuk
kedisiplinan.

* Dilepeh

Jika ini terjadi pada bayi di bawah usia 8 bulan, kemungkinan besar hanya
karena refleks anak. Ingat, MP-ASI yang diberikan merupakan sesuatu yang
"asing" baginya, lo. Tapi kalau si kecil sudah berusia 8 bulan atau lebih,
maka orang tua harus cermat. Apakah karena memang makanannya itu yang tidak
enak karena terlalu asin, terlalu manis, kelewat kasar atau malah kelewat
lembut? Atau apakah orang tua memberikannya dalam porsi terlalu banyak,
terlalu panas/dingin dan sebagainya. Nah, agar si kecil tidak melakukan
penolakan, pandai-pandailah mengatur strategi dengan cara menggonta-ganti
menu, rasa maupun tekstur makanannya. Jangan lupa pula untuk senantiasa
mengomunikasikannya pada si kecil. Contohnya, "Kenapa, Sayang, kok dilepeh?
Terlalu asin, ya? Nah, sekarang sudah enggak asin lagi."

* Diemut

Ini juga salah satu bentuk penolakan yang kerap dilakukan bayi. Anak yang
makannya ngemut umumnya karena alat-alat pencernaan di rongga mulutnya belum
siap menerima MP-ASI. Jika memang kebiasaan ngemut-nya karena gangguan
fisik, si kecil besar kemungkinan juga akan mengalami gangguan bicara. Untuk
memastikannya, kasus seperti ini lebih baik segera diperiksakan ke dokter.

* Disembur

Sesekali si kecil mungkin saja menyemburkan makanannya. Itu hal yang wajar
terjadi sebagai salah satu bentuk eksplorasinya. Namun orang tua harus
menjelaskan pada anak, semisal dengan mengatakan, "Lucu, ya, Dek, bunyinya.
Tapi makanan itu nanti harus ditelan ya." Kalau penjelasan seperti itu
terus-menerus diutarakan, anak tentu akan tahu mana perilaku yang tak baik
alias tak boleh diulanginya lagi. Akan tetapi, jika setiap kali makan si
kecil selalu menyemburkan santapannya, boleh jadi ia memang tidak berselera
pada makanan tersebut. Kemungkinan lain cara makan ataupun suasana makan
yang dirasa tak nyaman baginya. Lagi-lagi orang tualah yang harus kembali
mengeksplorasi cara lain agar si kecil mau makan.

* Dimuntahkan

Perilaku memuntahkan makanan bisa akibat penolakan ataupun bukan. Kalau
ternyata disebabkan masalah fisik atau ada yang harus dibereskan pada sistem
pencernaannya, maka muntahnya bukan merupakan penolakan. Akan tetapi kalau
muntah disebabkan si kecil mencari perhatian dalam mengeskpresikan
ketidaksukaannya pada makanan itu, baru bisa dikategorikan sebagai
penolakan. Untuk memastikan penyebabnya, orang tua dapat memperhatikan
kondisi anak. Misalnya apakah rewel atau tidak selagi muntah maupun sesudah
muntah, demam atau tidak, dan apakah disertai gangguan lain semisal diare
atau tidak. Jika jawabannya memang ya, kemungkinan si kecil mengalami
masalah fisik dan ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter ahlinya.

* Menolak sama sekali

Wujud penolakannya bisa berupa memalingkan kepala, menutup rapat-rapat
mulutnya, sampai menangis keras setiap kali disuapi. Penyebabnya lebih
banyak karena faktor fisik, seperti gara-gara sariawan, atau terkena radang
tenggorokan. Jadi, kalau si kecil menunjukkan tanda-tanda tadi, cermati dulu
kondisi kesehatannya secara umum. Pastikan apakah ia sariawan atau tidak,
gunakan termometer untuk memastikan suhu tubuhnya, apakah kondisi lidahnya
bermasalah atau tidak, bibirnya pecah-pecah, dan buang airnya lancar atau
tidak. Kalau benar karena kendala fisik, lekas konsultasikan ke dokter.

Akan tetapi jika tak ada gangguan fisik kemungkinan besar si kecil melakukan
gerak tutup mulut gara-gara faktor psikis. Tidak tertutup kemungkinan ia
memang tengah mencari perhatian orang tuanya yang sudah sepanjang hari tidak
dijumpainya, tak menyukai menunya, dan penampilan makanannya membuat bayi
kehilangan selera makan.

1-3 TAHUN

SUKA MENGEMUT MAKANAN

Makan diemut menunjukkan si batita belum berhasil melewati masa transisi
dari makanan cair ke padat.

"Ayo dong, Nak, makanannya dikunyah! Jangan diemut gitu ah!" ujar seorang
ibu dengan nada kesal pada putrinya. Maklum si ibu sudah harus berangkat
bekerja, sementara buah hatinya tak kunjung menelan makanan dalam mulutnya.

Ilustrasi tersebut memberi gambaran betapa susahnya mengatur perilaku makan
anak batita. Ia seringkali menunjukkan sikap tidak kooperatif. Sebetulnya,
sikap ini bisa dibenahi dengan mengajari anak biasa "makan sendiri" sejak
bayi. Pada saat makan ia sudah dibiasakan memegang sendok sendiri, menyendok
makanan, dan duduk di kursi khususnya (setiap kali hendak disuapi). Jadi,
bukan dengan menggendongnya sambil berjalan-jalan. Pengenalan-pengenal an
semacam itu pasti akan membuat anak di usia batita jadi lebih cepat
menyesuaikan diri.

Kendati awalnya mungkin merepotkan, seiring dengan berjalannya waktu, "kerja
keras" dan segala kerepotan orang tua mengajari anak makan sendiri akan
membuahkan hasil. Ini berarti anak tak perlu bergantung pada orang lain saat
memenuhi kebutuhan makannya. Selain itu orang tua pun diuntungkan dengan tak
perlu terus-menerus "bertengkar" hanya gara-gara persoalan sulit makan ini.
Sementara anak pun jadi lebih disiplin. Saat jam makan tiba, anak akan duduk
manis siap menyantap makanan yang tersaji di hadapannya.

Saat mulai mengajak anak untuk makan sendiri, ciptakan suasana yang
menyenangkan. Usahakan pula supaya tak terkesan memaksa dalam bentuk apa
pun. Untuk tahap awal, orang tua bisa memberikan contoh bagaimana cara makan
yang baik: dari duduk manis, bagaimana cara memegang sendok kemudian
mengangkatnya, menyuapkannya ke mulut, kemudian mengunyahnya dengan benar.
Dengan melihat contoh konkret tersebut anak jadi punya gambaran mengenai apa
yang harus dilakukannya dengan makanan tersebut.

Mengenalkan menu makanan pun harus dilakukan secara bertahap. Mulailah dari
makanan yang bertekstur paling halus sampai yang kasar, dari lauk yang
sederhana hingga yang komplet. Dengan kata lain, makan pun merupakan proses
pembelajaran. Kemudian di saat anak sudah mau melakukannya sendiri, orang
tua perlu memotivasi. Misalnya dengan memberi semangat atau pujian lewat
ucapan, "Anak Mama pintar ya, sudah bisa makan sendiri." Dengan demikian
anak akan merasa nyaman dan jadi bersemangat untuk berusaha makan sendiri.

Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/nakita

Konsultan Ahli:

Ade Irma Salihah, Psi.,
dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah, Jakarta

PERILAKU MAKAN NEGATIF

Berikut beberapa hal negatif yang sering muncul saat proses pembelajaran
makan berlangsung.

- Lama dan berantakan

Orang tua harus paham benar bahwa anak tidak langsung bisa makan dengan
benar seperti yang dilakukan orang dewasa. Seringkali anak hanya
mengaduk-ngaduk makanan dalam piringnya hingga meja jadi berantakan.
Aktivitas makannya pun jadi sangat lama.

Yang patut diketahui, kendala seperti ini mungkin saja terjadi karena proses
menyuapkan makanan ke mulut memang bukan hal gampang bagi anak usia ini
karena kemampuan motoriknya masih belum optimal. Maka alangkah bijaksananya
memberi keleluasaan pada anak untuk berusaha makan sendiri meskipun
berantakan dan merepotkan. Toh lambat-laun anak pun belajar dari apa yang
dilakukannya.

Orang tua sebaiknya juga menghindari kata maupun tindakan yang sekiranya
dapat mematahkan semangat dan akhirnya membuat anak malas belajar makan
sendiri. Misalnya menghardik/memarahi anak ketika dia menghambur-hamburka n
nasi dan lauk-pauknya. Lain hal bila anak memang memain-mainkan makanannya
dan sama sekali tidak berniat untuk menyantapnya. Kalau ini yang terjadi,
segera arahkan ke "jalur" semestinya. Yang pasti bukan dengan memojokkan,
apalagi memarahinya habis-habisan.

- Mogok makan

Adakalanya tiba-tiba anak emoh makan sama sekali. Semakin dipaksa, semakin
dia tak mau makan. Bahkan tak jarang disertai dengan gejala tantrum alias
mengamuk. Bila ini yang terjadi, orang tua harus bersedia introspeksi diri.
Boleh jadi ini muncul karena sikap ibu/ayah yang kasar dan memaksa yang
akhirnya membuat mogok makan. Bila ya, orang tua hendaknya mau mengubah
sikap sekaligus mengupayakan agar aktivitas makan menjadi sesuatu yang
menyenangkan.

- Tak mau duduk

Anak juga seringkali tak mau duduk atau diam di suatu tempat ketika makan.
Dia selalu bergerak ke sana kemari sehingga orang tua terpaksa harus
mengejar-ngejarnya supaya tetap makan dan akhirnya membuat orang tua
kewalahan. Bukan cuma itu. Perilaku tak bisa diam seperti ini sebetulnya
juga dapat memicu ketidakseimbangan pada organ pencernaan. Konkretnya,
proses mencerna jadi tidak bisa berjalan dengan baik akibat pergerakan tubuh
si kecil yang tiada henti.

Bila ini yang muncul sebagai bentuk kebiasaan anak, coba ingat-ingat lagi
apakah itu bisa bersumber dari orang tua sendiri atau tidak. Bukan tidak
mungkin lo ketika makan, secara tidak sadar orang tua menunjukkan perilaku
negatif, semisal makan sambil jalan, ngobrol, baca koran, nonton teve dan
sebagainya. Kalau ini yang terjadi, jangan salahkan anak bila ia mengikuti
perilaku makan orang tuanya karena dia menganggap memang seperti itulah
aktivitas makan yang benar.

Nah, agar hal yang satu ini tidak terjadi, mau tidak mau orang tua harus
memberikan contoh baik kepada anak. Caranya, duduk santun di kursi makan,
menyendok makanan secara perlahan dan tertib, mengunyahnya tanpa
tergesa-gesa ataupun mengeluarkan bunyi dan sebagainya. Kalau orang tua
memberi contoh baik, tentu akan terpatri dalam diri anak bahwa proses makan
yang benar ya memang seperti itu. Kelak anak pun akan menerapkan cara-cara
yang baik dan benar dalam keluarganya.

- Mengemut makanan

Kebiasaan mengemut umumnya dimulai saat anak mengenal makanan padat, yaitu
sekitar usia 8 bulan hingga usia 2-3 tahun. Penyebabnya, anak belum berhasil
menjalani proses pembelajaran mengenai bagaimana caranya mengunyah. Padahal
berbeda dari makanan cair yang bisa langsung dimakan, makanan padat perlu
dikunyah dulu sebelum ditelan. Di sini dituntut koordinasi gerakan lidah dan
rahang agar bisa masuk ke kerongkongan.

Tentu saja kebiasaan mengemut ini harus diatasi segera karena bisa
berpengaruh buruk pada perkembangan fisik dan psikologis anak. Dari segi
fisik, anak akan mengalami kekurangan gizi karena porsi makanan yang
dikonsumsi pasti jauh berkurang. Kalau seharusnya ia bisa menghabiskan satu
piring nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur mayur dalam waktu tertentu,
maka dengan mengemut anak hanya mampu menghabiskan sebagian kecil makanan
dalam waktu sama. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi gizi anak akan
memburuk dan giginya mengalami kerusakan.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab anak ngemut:

* Tidak diajarkan bagaimana cara mengunyah yang benar. Untuk mengatasinya,
mau tidak mau orang tua harus menyontohkan bagaimana cara mengunyah yang
benar secara bertahap, termasuk bagaimana membuka mulut, menggerakkan rahang
dan sebagainya.

* Di masa bayi, pemberian makanan termasuk mengisap dot dapat memberikan
kepuasan tersendiri karena saat itu anak masih berada dalam fase oral. Bila
sampai usia batita anak masih sangat menikmati fase oral yang seharusnya
sudah beralih pada kepuasan menggigit dan mengunyah, maka dia akan terus
melanjutkan kebiasaan mengemutnya. Untuk mengatasinya, mintalah anak
meninggalkan kebiasaan tersebut. Sampaikan pula dampak negatif dari mengemut
ini, tentu saja dengan bahasa sederhana agar bisa dipahaminya.

* Tak jarang anak asyik bermain hingga lupa masih ada makanan dalam
mulutnya. Bila kebiasaan kurang baik ini tidak mendapat perhatian dari orang
tua, anak akan merasa dibenarkan hingga akhirnya kebiasaan tersebut terus
berlanjut. Untuk mengatasinya, mintalah anak mengunyah makanannya lebih
dulu. Dengan kata lain berhenti bermain sampai aktivitas makannya selesai.

* Ketakutan dimarahi akan membuat anak terbiasa mengemut makanannya.
Terlebih bila orang tua memaksa sementara anak sebetulnya tidak suka makanan
yang diberikan. Mengemut makanan dijadikannya sebagai bentuk protes.
Mengatasinya, tentu saja dengan menjadikan acara makan sebagai sesuatu yang
menyenangkan. Kesampingkan pemaksaan dalam bentuk apa pun dan beralihlah
menggunakan pendekatan yang lebih efektif, semisal membujuk atau merayu
dengan berbagai pujian.

* Gigi-geligi anak bermasalah. Mungkin saja giginya sedang tumbuh sehingga
anak merasa tidak nyaman dengan gusinya yang terasa "gatal". Rasa tak nyaman
mendorongnya untuk mengemut makanan. Untuk mengatasinya ada baiknya orang
tua secara berkala cermat mengikuti pertumbuhan gigi anaknya, apakah ada
gangguan atau tidak.

- Tak mau buka mulut

Aksi tutup mulut juga merupakan perilaku sulit makan yang besar kemungkinan
dipicu hal-hal berikut:

* Mungkin ada sariawan atau infeksi pada gigi-geliginya. Kalau ini yang
terjadi, jangankan mengunyah, membuka mulut pun merupakan siksaan
tersendiri. Untuk mengatasinya, bawalah ke dokter gigi anak guna memastikan
apakah gigi-geliginya ada yang mengalami gangguan atau tidak. Ada baiknya
periksakan mulut dan gigi anak secara berkala tiap 3 bulan sekali.

* Boleh jadi anak merasa masih kenyang atau sebaliknya sudah kenyang duluan.
Entah karena porsi makanan yang diberikan sudah melampaui batas kemampuannya
atau karena ia sudah makan banyak camilan sebelum jam makannya tiba. Untuk
mengatasinya, tetapkan pola makan anak dan berusahalah untuk mematuhi jadwal
tersebut.

* Suasana yang serba terburu-buru juga sering membuat anak emoh buka mulut.
Umpamanya, karena orang tua harus segera berangkat kerja, maka anak diminta
untuk cepat-cepat menghabiskan makanannya. Jangankan anak-anak, orang dewasa
pun kalau diburu-buru seperti itu biasanya malah kehilangan nafsu makan.
Untuk mengatasinya ya ciptakan suasana santai dan menyenangkan tanpa
keterburu-buruan seperti itu.

* Kemungkinan lain, anak tidak menyukai makanan yang disodorkan padanya
meskipun makanan tersebut sangat bergizi. Untuk mengatasinya,
pandai-pandailah mengatur menu makan anak agar senantiasa bervariasi. Ingat,
anak relatif cepat bosan dan mudah berubah keinginannya. Contohnya, hari ini
ia suka sekali tempe bacem, tapi besok ia hanya mau makan dengan telur
dadar, dan lusa mau makan ayam goreng tepung dan seterusnya. Selain itu,
cara pengolahan dan penyajiannya pun harus mampu memikat hati anak. Misalnya
tak harus selalu dibuat sup, tapi bisa juga ditumis, atau dipanggang. Bahkan
orang tua sebaiknya menanyakan lebih dulu pada anak apa menu yang
diinginkannya hari ini. Ini akan membuat anak merasa dilibatkan yang pada
gilirannya akan membuatnya bersemangat menyantap makanan tersebut.

3-6 TAHUN

MAKAN PILIH-PILIH SAMBIL NONTON TEVE

Perilaku makan yang salah pada si prasekolah ternyata bisa berasal dari
kebiasaan orang tua atau pengasuhnya.

Perilaku makan yang tidak baik, seperti pilih-pilih makanan, makan sambil
nonton atau main, dan baru mau makan kalau diajak jalan-jalan, tentu dapat
terbawa hingga dewasa. Bahkan, sebuah penelitian yang pernah dilakukan di
Amerika menunjukkan, anak yang pilih-pilih makanan bakal menemui kesulitan
dalam bersosialisasi. Kenapa begitu? Sebab umumnya ia pun akan berperilaku
pilih-pilih teman dan cenderung susah menyesuaikan diri. Repot, kan?

Nah, agar tak muncul hal-hal yang tak diharapkan, perilaku makan yang buruk
tersebut memang harus diubah. Mengubahnya susah-susah gampang karena
terlebih dulu perilaku makan orang tua atau pengasuhlah yang harus diubah.
Jangan lupa, anak-anak usia ini masih merupakan sosok peniru ulung
orang-orang terdekatnya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Ferdi/nakita

Konsultan Ahli:

Rosdiana S. Tarigan, M.Psi, MHPEd
dari Klinik Mutiara Gading, Jakarta

PILIH-PILIH MAKANAN

Kebiasaan pilih-pilih makanan (picky eater) yang muncul di usia prasekolah
rata-
rata merupakan tiruan dari perilaku orang tuanya. Coba perhatikan, biasanya
orang tua atau orang-orang dewasa terdekatnya tergolong individu yang juga
cenderung pilih-pilih makanan. Penyebab lainnya, besar kemungkinan si
prasekolah punya keengganan mencoba hal-hal baru, termasuk makanan. Berikut
beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:

* Mau tidak mau orang tua harus bersedia mengubah kebiasaan makannya
terlebih dulu. Cobalah berusaha keras untuk tidak pilih-pilih makanan kalau
tak ingin anak meniru hal yang sama.

* Berikan contoh yang baik saat makan bersama. Sejak usia 3 tahunan,
biasakan mengajak anak makan bersama keluarga di meja makan. Manfaat
lainnya, anak dapat mengetahui sekaligus belajar mengenai tata tertib di
meja makan.

* Dampingi anak saat makan dan ikutlah mengonsumsi makanan yang sama.

* Mintalah ia mencoba makanan keluarga yang tersaji di meja. Katakan bahwa
ia boleh mencoba dalam jumlah sedikit terlebih dulu. Yakinkan dirinya bahwa
bila tidak suka, Anda tak akan pernah memaksanya untuk menyukai makanan
tersebut.

* Hindari melimpahi piring anak dengan sekian banyak ragam makanan dalam
jumlah banyak sekaligus. Bisa-bisa anak malah jadi takut dan sama sekali
tidak bisa menikmatinya.

* Jelaskan bahwa semua makanan yang Anda tawarkan memberi manfaat bagi
kesehatan dan pertumbuhannya.

* Jangan pernah memaksa si prasekolah untuk mencoba makanan yang sama sekali
belum dikenalnya. Pemaksaan hanya akan membuatnya jera dan takut untuk
mencobanya. Jangan salahkan bila ia malah memuntahkan makanan tersebut.
Dampak yang lebih buruk, anak akan mengalami trauma dan kelak akan selalu
menghindari makanan tersebut.

* Beri kesempatan pada si prasekolah untuk menentukan atau memilih sendiri
makanan yang diinginkan. Bila ingin mengenalkan jenis makanan yang baru, ada
baiknya barengi dengan makanan yang sudah dikenalnya. Contohnya bila ingin
mengenalkan udang, jangan tiba-tiba menyajikannya dalam jumlah besar. Kalau
sebelumnya si prasekolah sudah akrab dengan brokoli, siasati dengan mengolah
udang plus brokoli. Dengan demikian, anak tetap merasa aman saat mengonsumsi
makanan yang baru tersebut.

MASIH DISUAPI

Jika anak usia prasekolah masih makan disuapi, besar kemungkinan selama ini
orang tua dan pengasuhnya tak cukup sabar mendampinginya belajar makan
sendiri. Padahal maklumi bila anak yang mulai belajar makan sendiri
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makanan tersebut.
Maklumi pula bila acara makan sendiri menambah kerepotan bagi orang tua
karena harus membersihkan sisa makanan yang berserakan di mana-mana.

Nah, gara-gara tak mau repot seperti itulah banyak orang tua dan pengasuh
akhirnya memilih menyuapi terus anaknya. Sama sekali tak disadari bahwa
kebiasaan ini bisa menghambat perkembangan anak. Ia jadi malas makan sendiri
dan lebih suka disuapi. Dengan kata lain, ia jadi tak mandiri dalam urusan
makan.

Untuk mengatasinya, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh, yakni:

* Lagi-lagi orang tua harus bersedia mengubah kebiasaan buruknya.

* Belajarlah bersabar dan mintalah anak untuk makan sendiri.

* Dampingi anak sambil makan bersama. Hindari menyuruh-nyuruh anak untuk
cepat-cepat menghabiskan makannya. Keterburu-buruan bisa membuat anak muntah
sementara suasana makan pasti jadi tidak menyenangkan.

* Jangan menyamaratakan porsi anak dengan porsi orang dewasa. Sebaiknya
sediakan makanan dalam porsi kecil lebih dulu. Bukan tidak mungkin lo, anak
sudah frustrasi duluan begitu melihat porsi yang "mengerikan" . Apalagi jika
ia dipaksa menghabiskan semuanya dalam waktu relatif singkat.

* Bila si prasekolah berhasil menghabiskan porsi makanannya, lontarkan
pujian. Ini akan memotivasi si prasekolah untuk menunjukkan pada dunia bahwa
ia bisa makan sendiri.

* Buatlah agar tampilan makanannya menggugah selera, bisa dari resepnya
ataupun cara penyajiannya.

* Jangan alpa untuk mulai mengajari anak makan sendiri.

SAMBIL JALAN-JALAN ATAU NONTON

Perilaku sulit makan si prasekolah, oleh sebagian orang tua diakali dengan
mengajaknya makan sambil jalan-jalan atau nonton acara televisi kesukaan
anak. Diharapkan perhatian si prasekolah bisa teralihkan sehingga masalah
sulit makannya dapat teratasi.

Padahal makan sambil jalan-jalan sebaiknya dihindari karena anak usia
prasekolah justru sedang senang-senangnya beraktivitas, seperti berlari ke
sana kemari, melompat dan meloncat, serta aktivitas "berat" lainnya. Bila si
prasekolah dibiasakan makan sambil melakukan berbagai aktivitas tadi,
mungkin saja apa yang sudah ditelannya keluar lagi. Hal ini tentu menambah
pengalaman tidak enak mengenai makan. Selain itu, makanan yang dibawa
berjalan-jalan berisiko tercemari debu sehingga amat berpotensi menularkan
penyakit.

Sama halnya dengan makan sambil nonton teve. Wajar memang bila orang tua
berharap perhatian si prasekolah dapat teralihkan dari makanan ke tayangan
televisi, sehingga anak mau duduk diam dan tidak bosan menjalani kewajiban
makannya. Padahal bukan mustahil saking asyiknya ia menikmati tayangan teve,
makanan yang sudah ada di mulutnya malah diemut terus. Akibatnya, waktu
makan berlangsung lebih lama, sehingga makanan yang ada di piringnya
mengembang dan rasanya berubah jadi hambar.

Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua, di
antaranya:

* Ingat, makan adalah proses pembelajaran. Untuk itu, biasakan anak untuk
duduk tertib di kursi makan mengelilingi meja makan. Dengan membiasakannya
demikian sejak kecil, dalam diri anak akan terbentuk pola bahwa makan dan
minum itu haruslah dilakukan sambil duduk di kursi makan.

* Ajaklah anak untuk makan bersama keluarga di meja makan. Kalaupun ayah dan
ibu sama-sama sibuk, tetap agendakan 1 di antara 3 kali waktu makan agar
bisa makan bersama. Manfaatnya anak dapat sekaligus belajar tata tertib di
meja makan. Kalaupun jam makannya tidak cocok, tetaplah jadwalkan waktu
tersebut untuk makan kue atau makanan ringan lainnya. Yang penting, tetap
dapat makan bersama.

* Jika anak sudah telanjur terbiasa makan sambil jalan-jalan atau nonton
teve, tugas orang tua tentu semakin berat untuk mengubah kebiasaan tersebut.
Tanamkan kebiasaan makan yang baik secara perlahan dan bertahap.

* Untuk mereka yang terbiasa makan sambil jalan, alihkan perhatian anak
dengan mengajaknya makan di kursi makan khusus. Usahakan bentuk atau warna
kursi itu menarik minat anak untuk duduk di atasnya. Kemudian secara
berangsur-angsur dekatkan kursinya ke meja makan agar anak terkondisi makan
di situ.

6-12 TAHUN

LO, MAKANANNYA, KOK, TAK BERGIZI?

Adanya pergeseran lingkungan kehidupan, dari lingkungan rumah ke lingkungan
sekolah atau luar rumah, memunculkan problema tersendiri dalam pola makan
anak usia 6-12 tahun. Apa saja masalahnya dan bagaimana mengatasinya? Yuk,
kita simak penjelasan dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GM., dari Klinik Bina
Sehat, Jakarta.

USIA 6-8 TAHUN

* Jajan makanan tak bergizi

Saat berada di sekolah, teman dapat membawa pengaruh yang sangat penting.
Contohnya soal jajan. Meskipun di rumah sudah tersedia makanan yang enak dan
bersih, bukan tidak mungkin anak tetap ngotot ingin jajan. Kenapa? Tak lain
karena semua temannya juga jajan. Bisa dipastikan anak akan lebih suka jajan
karena rasa makanan yang dijual tadi umumnya lebih enak dan gurih dibanding
yang tersaji di rumah. Mereka sama sekali tidak peduli kalau rasa yang enak
dan gurih tersebut berasal dari bumbu penyedap maupun kandungan garam dan
lemak yang tinggi. Selain itu, bagi anak-anak, jajan bersama teman
memberikan suasana yang berbeda dibandingkan rumah sehingga terasa lebih
mengasyikkan.

Sebenarnya, boleh saja anak sesekali jajan. Namun ajarkan untuk memilih
jajanan yang bersih dan menyehatkan, semisal hamburger yang dilengkapi
dengan sayuran. Pasalnya, meski sejak usia 6 tahun anak mengalami
pertumbuhan dengan laju pertumbuhan yang tidak terlalu cepat, namun
kebutuhan gizinya tetap harus terpenuhi. Bila kebutuhan gizinya tidak
terpenuhi, maka dampak kurang gizi ini dalam jangka panjang dapat
menimbulkan gangguan kognitif dan kemampuan akademiknya. Sayang kan? Selain
bisa menyebabkan penurunan aktivitas fisik serta membuatnya berisiko
mengalami penyakit infeksi. Perlu diketahui, kecukupan gizi pada usia ini
selain diperlukan untuk pertumbuhan juga dibutuhkan untuk metabolisme basal
dan aktivitas fisik.

* Masih disuapi

Hal ini terjadi karena di TK anak masih dibolehkan makan sambil disuapi.
Padahal jika tidak pernah dimulai untuk membiasakannya makan sendiri,
bisa-bisa sampai akhir usia sekolah pun dia belum terampil makan sendiri.
Ingat, orang tua yang terbiasa menyuapi makan sebetulnya tengah "membonsai"
kemandirian anaknya. Akibatnya, si anak hanya mau makan bila disuapi oleh
orang tua atau pengasuhnya. Lalu bagaimana bila kebetulan orang tua pergi
atau pengasuhnya sedang repot? Besar kemungkinan jam makannya terlewati.

Sebagai solusinya, jika anak tak mau makan hanya gara-gara ingin terus
disuapi, tegaskan padanya bahwa anak seusianya sudah seharusnya bisa makan
sendiri. Jika anak tetap tak beranjak untuk mengambil piring dan mengisinya
dengan nasi dan lauk-pauk, tak usah memaksa. Sediakan saja makanan di tempat
yang terjangkau dan mintalah ia makan dengan mengambilnya sendiri bila
lapar.

Di sisi lain, orang tua jangan terlalu khawatir anaknya bakal kelaparan
akibat aktivitas fisiknya yang begitu tinggi. Anak usia ini umumnya akan
mudah merasa lapar dan pasti ingin makan. Yang mereka inginkan sebetulnya
adalah ditunggui atau disuapi saat makan. Bila ini yang terjadi, berilah
pengertian dengan bahasa yang mudah dicerna anak.

* Tak suka sayur

Penyebabnya karena orang tua relatif jarang menghidangkan sayuran dalam menu
makanan sehari-hari di rumah. Solusinya, berikan pengertian dalam bahasa
sederhana mengenai pentingnya mengonsumsi sayur bagi kesehatan dan
kecerdasan. Orang tua juga harus pintar-pintar menyiasatinya dengan
menyajikan sayur bersama makanan lain yang disukainya, berpenampilan
menarik, mudah dinikmati, tidak keras dan liat, tidak pedas, dan memiliki
citarasa yang sesuai selera anak. Bila anak tetap menolak sayuran, pilihkan
bahan makanan yang banyak mengandung serat yang bisa diperoleh dari
buah-buahan dan agar-agar.


USIA 9-12 TAHUN

* Ingin langsing seperti bintang film

Beberapa anak usia 9-12 tahun, terutama praremaja putri, menyadari kegemukan
merupakan momok. Agar tak jadi sasaran empuk untuk diolok-olok, mereka
berusaha keras menjaga kelangsingan tubuhnya. Tak bisa disangkal bila
fenomena di atas muncul akibat kuatnya pengaruh layar kaca yang
mempertontonkan tokoh-tokoh cilik yang menjadi "hero", semisal bidadari nan
cantik dan bertubuh langsing. Nah, itu semua terekam dalam benak anak hingga
mereka terobsebsi ingin langsing seperti tokoh idolanya tadi.

Akibatnya, tak sedikit yang menjalani diet ketat bahkan menolak makan hanya
supaya langsing! Celakanya, anak seusia ini umumnya belum mengerti
sepenuhnya dampak buruk dari program diet berlebihan, apalagi tanpa
pengawasan dokter. Padahal arti diet sesungguhnya adalah mengombinasikan
makanan dan minuman dalam hidangan yang dikonsumsi sehari-hari.

Ada berbagai jenis diet. Contohnya, diet seimbang yakni karbohidrat,
protein, dan lemak terkandung di dalamnya dengan komposisi seimbang. Diet
rendah lemak, mengandung lemak dalam jumlah lebih rendah dari kebutuhan
ideal. Diet rendah kalori (biasanya diberikan untuk mereka yang sedang
menurunkan berat badan) yaitu mengandung jumlah kalori yang lebih rendah
dari kebutuhan tubuh sehari-hari.

Pada dasarnya, setiap orang di segala umur harus melakukan pengaturan makan
sesuai dengan kebutuhan tubuhnya, termasuk pada usia SD. Karena itu
penanganan sikap enggan makan akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara
memberi pengertian kepada si anak. Tekankah bahwa mereka sedang dalam masa
pertumbuhan. Kalau memaksa diri tidak mau makan hanya karena ingin langsing,
mereka sendiri yang akan rugi. Tubuhnya akan lemas dan cepat lelah yang
bukan tidak mungkin akan berakhir di rumah sakit. Ia juga jadi malas
beraktivitas, bahkan kemampuan berkonsentrasinya terganggu. Di sekolah,
akhirnya ia tidak dapat menangkap pelajaran dengan baik dan prestasinya
menurun. Jadi, tetap lakukan pengawasan terhadap perkembangan anak dan
susunlah menu bergizi seimbang.

Santi Hartono. Foto: Iman/nakita

ADA JUGA YANG JADI DOYAN MAKAN

Di usia praremaja, aktivitas fisik anak semakin meningkat. Disamping urusan
sekolah, mereka juga disibukkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan
mulai sering ngegang dengan teman-temannya. Semua kegiatan tadi yang
melibatkan aktivitas fisik sebetulnya justru membuat anak jadi doyan makan.

Pada rentang usia ini, pertumbuhan yang dialami anak berlangsung mantap
meski tidak sepesat masa bayi atau masa pubertas. Dengan demikian konsumsi
makan yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya kegemukan. Padahal
kegemukan yang tejadi di usia anak bakal sulit dikoreksi setelah yang
bersangkutan dewasa. Lantaran itu, pengaturan pola makan yang baik sudah
harus diterapkan sejak dini. Sementara kegemukan yang tak tertangani dan
dibiarkan berlanjut kelak dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti
diabetes dan jantung. Selain itu, obesitas juga dapat mengganggu citra diri.

CARA MAKAN JUGA MERUPAKAN KEUNIKAN

Tak ada gunanya memaksa anak makan dengan sempurna, karena yang ia butuhkan
adalah bimbingan dari orang tua.

Selain mengupayakan berbagai cara yang sudah disebutkan di depan, orang tua
pun harus bersedia bereksplorasi menemukan makanan yang paling cocok untuk
anak. Selain itu, pada bayi, bukan tidak mungkin apa yang kita anggap
sebagai bentuk penolakan makan sebenarnya adalah eksplorasi anak. Dengan
menyembur-nyemburka n makanannya, boleh jadi ia merasakan sensasi tersendiri
kemudian menjadikannya sebagai permainan yang menyenangkan.

Orang tua pun wajib memahami berbagai tipe makan anak yang berbeda-beda. Ada
yang lebih suka makan dalam porsi sedikit-sedikit, ada juga yang amat
berselera melihat porsi besar. Sebagian anak makan dalam tempo yang amat
lambat, sedangkan sebagian lagi cepat. Dengan kata lain, tidak tertutup
kemungkinan penolakan si kecil semata-mata karena orang tua atau pengasuh
tidak tahu tipe makan si anak. Inilah salah satu bentuk keunikan anak.

Selanjutnya, harus dipahami bahwa belajar makan sendiri harus dilatih
terus-menerus. Anda bisa mulai melatih anak saat berusia 1,5 tahun.
Kemampuan duduknya yang sudah lebih baik, ditunjang kemampuan motorik yang
lebih optimal, memungkinkan anak bisa memegang sendoknya sendiri, bahkan
menyuapkan sendok berisi makanan ke mulutnya. Pastinya, makanan masih
berceceran di mana-mana. Oleh karena itu, anak usia batita perlu bimbingan
terus-menerus. Bagaimana memegang sendok, mengambil makanan, mengunyah, dan
kemudian menelannya. Jika orang tua sabar untuk terus melatih si kecil, maka
ia akan terbiasa makan sendiri.

Namun, biasanya ada kekhawatiran yang menyertai setiap kali anak berlatih
makan sendiri, takut asupan gizinya kurang karena lazimnya makanan jadi
terbuang-buang. Nah, berdasarkan penelitian yang dikutip Papalia (1994),
seharusnya kekhawatiran ini tak perlu ada lagi. Ia mengacu pada hasil
penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat tahun 1991 yang
mengatakan, tubuh anak memiliki "rambu-rambu" tersendiri untuk memenuhi
kebutuhan makannya. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 15 anak usia 2¬5
tahun dengan berat badan rata-rata dan memiliki perilaku makan yang beragam.
Ada yang sulit, mudah, dan biasa-biasa saja. Penelitian tersebut dilakukan
selama 6 hari. Hasilnya? Ternyata jumlah kalori pada ke-15 anak itu sama.
Sekali lagi, tubuh anak sebenarnya telah memiliki rambu-rambu sehingga mampu
mengimbangi kebutuhan gizi. Uniknya, kemampuan seperti ini tidak dimiliki
orang dewasa.

Jadi, tak perlu khawatir berlebihan kalau si kecil sulit makan, apalagi
sampai memaksanya makan. Percayalah, anak yang normal akan makan sesuai
kebutuhan tubuhnya. Bila kondisinya tetap sehat, kulitnya tidak kusam,
matanya tetap bercahaya dan masih aktif bergerak, itu pertanda kebutuhan zat
gizinya masih tercukupi.

Zali, Irfan, Uut. Foto: Dok. nakita

6 HAL YANG PATUT DIPERHATIKAN

1. Kurus belum berarti kurang gizi, gemuk belum tentu sehat.

2. Jangan memaksa si prasekolah makan berlebih hanya karena terlihat kurus
dan Anda takut ia kekurangan gizi.

3. Sesekali ajak anak menyiapkan makanannya. Ketertarikan pada proses ini
mampu membangkitkan selera makannya.

5. Jangan ragu untuk mengenalkan aneka rasa sebagai variasi. Namun hindari
penggunaan penyedap dan bumbu-bumbu yang kelewat merangsang atau pedas.

6. Sesekali biarkan anak makan bersama teman-temannya. Suasana kebersamaan
seperti ini mampu menggugah selera makannya.

TAHAP PERKAMBANGAN PERILAKU MAKAN

* Usia 1,5 tahun

Umumnya anak mulai memiliki keinginan untuk makan sendiri menggunakan
tangannya. Untuk mengoptimalkannya, berikan makanan yang dapat digenggam
sendiri (finger food) dan biarkan ia makan sendiri.

* Usia 3 tahun

Anak sudah bisa memegang sendok dan garpu sendiri. Biasanya diikuti
keinginan untuk mencoba makan dengan peralatan tersebut.

* Usia 4 tahun

Anak sudah bisa makan sendiri. Untuk melatih kemampuannya, upayakan agar
dalam 1 di antara 3 waktu makan, ia makan sendiri tanpa bantuan orang lain.

* Usia 5 tahun

Anak sudah terampil makan sendiri dalam 3 kali waktu makan.

sumber: Nakita

No comments:

 

blogger templates | Make Money Online